Salam sayang…
Apa kabarmu nak? Mama dan
ayah selalu berdoa semoga semuanya baik-baik saja di sana.
Nak, ketika kamu
membaca surat ini, itu artinya kamu sedang nan jauh di sana, di negara orang,
sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk merenggut ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya, untuk nanti kau bawa pulang dan kau bagikan dengan
adik-adik dan masyarakatmu di sini. Nak, saat kau membaca tulisan ini, itu
berarti kau sedang menghadapi rintangan yang membuatmu nyaris tepar, hingga
kamu mengadu “ma, kami enggak sanggup lagi.”
Nak, dengarlah. Kenapa
mama sengaja mengirimkan surat ini untukmu saat kau sedang dirudung begitu
banyak masalah dan kau merasa ingin menyerah? Karena, saat mama menulis tulisan
ini, mama persis berada pada posisi yang sama. Mama sedang betul-betul dihimpit
persoalan yang bertubi-tubi harus diselesaikan, begitu banyak hal yang harus
dipikirkan, dalam waktu yang bersamaan, tapi kesediaan waktu yang ada sungguh
terbatas. Dan juga, umur mama persis seperti umurmu sekarang, masih muda dan
masih labil-labilnya, masih 21.
Nak, saat mama menulis tulisan
ini, mama sedang berada dalam kondisi yang persis sama denganmu, “mama tak kuat
lagi. Mama ingin menyerah saja dan hidup selayaknya gadis-gadis biasa yang
kesehariannya hanya mempercantik diri dan bermain kesana kemari. Mama ingin
berhenti. Tak kuat sayang. Tak kuaaaatttt. Rasanya kepala hendak pecah. Sebagus
apapun yang mama lakukan, pasti ada saja yang merudung menjatuhkan, apalagi
jika mama tidak berbuat apa-apa, mama diinjak-injak.” kamu pasti tahu bagaimana
rasanya kan?
Tapi nak, tahukah kamu,
kenapa hingga saat ini, meski mata seperti hendak keluar dari tempurungnya,
meski kepala sudah terasa seberat gunung, meski kaki sejenis tak lagi bisa
berdiri, tapi mama tetap berusaha tersenyum, meski harus merangkak, meski hanya
tangan saja yang masih bisa bergerak, mama tetap tidak akan menyerah? Sama
sekali tidak akan pernah menyerah?
Tahukah kamu kenapa
sayang? Tahukan untuk siapa semua ini mama lakukan? Tentu jawabannya tidak ada
lain adalah untuk kalian cinta, untuk kesuksesan kalian. Dulu, mama sedikit pun
tidak open masalah kalian, wong umur mama masih sangat muda. Jangankan
memikirkan kalian, memikirkan siapa yang akan jadi ayah kalian saja mama masih
belum ada bayangan. Tapi, beberapa bulan yang lalu, ditengah suntuk-suntuknya
hidup dan banyaknya undangan pernikahan teman, mama sempat berceloteh ke bunda
sarah “pit, seru ya kalau kita punya suami yang pintar, baik dan keren.” Eh,
bukannya mendukung perkataan mama, dia malah berujar lain “aku kog enggak
kepikir kesitu ya nul, aku malah kepikir, aku pengen punya anak yang
pintar-pintar.” Jedeng-jedeng, ternyata cita-cita dia jauh lebih ke depan dari
mama. Mama pengen punya suami yang sholeh, eh dia malah pengen punya anak yang
sholeh dan sholehah.
Nah, mulai saat itu,
mama mulai melempar sedikit lebih jauh cita-cita mama. Mama ingin punya
anak-anak yang sehat, cerdas, hebat, sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang
tua, dan paling penting juga berguna bagi sesama. Hanya saja, saat mama baca
ulang cita-cita mama yang satu ini, kog kesannya berat sekali ya, mana mama bercita-cita
punya 10 penerus lagi. Tentu bukan perkara sepele dan remeh temeh. Namun,
kemudian, pertanyaan pertama yang muncul dibenak mama adalah mungkinkah?
Mama jadi teringat
pesan nek buk mu sayang, “buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya.” Dan nek
buk sungguh sering berujar, “ayah bodoh, anak masih berkemungkinan pandai, jika
mamanya pandai. Tapi, mama bodoh tidak akan mampu melahirkan anak-anak yang
pandai, meskipun ayahnya pandai.” Entah dari penelitian mana nek buk mu merujuk,
yang jelas, sejauh pemantauan mama sekarang, hampir 80% itu benar adanya.
Karenanya, mama jadi
sadar, jika mama ingin kalian tumbuh
menjadi anak yang sehat, cerdas, hebat, sholeh dan sholehah, berbakti kepada
orang tua dan berguna bagi sesama, tentu orang pertama yang harus menjadi
seperti itu adalah mama sendiri, bukan orang lain. Dan itu tidak bisa diganggu
gugat. Itulah kenapa sayang, meski darah hanya tinggal setetes lagi yang
tersisa di nadi mama, mama tetap tidak akan berhenti berusaha mengejar
cita-cita mama, meski ia setinggi langit, meski ia di gugus bintang sana.
Karena mama tahu, jika mama menyerah, kalian juga akan mewariskan mental pengecut
begitu. Dan jika itu terjadi, mama tidak akan pernah bisa memaafkan diri mama
sendiri.
Nak, jika mama saja
yang selemah ini mampu melewati masa-masa sesulit ini dengan sukses dan
bijaksana, jika mama saja mampu mengejar cita-cita mama semuanya, tentu kalian
akan jauh lebih bisa dari mama, karena kalian jauh lebih hebat dari mama.
Karena mama telah mempersiapkan kalian dari sekarang sayang. Mama telah menjaga
kalian dan mendidik kalian sejak sekarang, dengan cara mama menjaga dan mendidik
diri mama sendiri supaya mama bisa menjadi mama yang baik untuk kalian. Begitu
juga dengan hal berbakti pada orang tua, selayaknya mama yang menginginkan
kalian untuk menjadi anak yang berbakti pada mama dan ayah dan sayang akan
keluarga, tentu mama juga sudah dengan sekuat tenaga berbakti pada nek buk dan
chik abu mu, juga sudah sekuat tenaga menjaga dan menyayangi keluarga mama saat
ini.
Karena, satu hal yang
mama tahu, bahagia berawal dari keluarga sayang. Sayangi keluarga! Disitulah bahagia
nak! Satu hal yang jangan pernah lupa cinta, ingatlah selalu pada yang Maha
pencipta dan mencinta, Allah, karena kepadaNya lah mama menitipkan setiap doa
kebaikan untuk kalian, jadi jangan sia-siakan doa mama nak.
Therefore, keep spirit
dear. You can do it. Keep silent, work hard, and pray! I like you for always, I
love you forever, as long as I live your mommy I’ll be.
Ttd. Mamamu
Yang baru berusia 21.
Kondisi semangat dan badan, sejenis “hidup segan mati tak mau,” semua nyaris
babak belur nak. Semua deadline menari-nari di depan mata, sedang hanya satu
badan yang mama punya. Semua perasaan bercampur aduk, antara kesal,
bersemangat, juga khawatir berlebihan. Semuanya kacau. :( Waktu Miruek Lam
Reudeup.
the next destination, before traveling around the world. aamiin :)




0 komentar:
Posting Komentar