Kehilangan Sesuatu?

Senin, 20 Mei 2013

Cinta itu Allah, Allah itu Cinta.


Wow.. sudah lama saya tidak berkunjung kemari ya. so sorry T.T

No more chitchat, just to the point. Cerita begini, dua hari yang lalu saya ke rumah cek Lu, penjahit kesayangan, untuk mengambil baju yang kata Anda (kakak) saya sudah selasai "di-edit," alias dipotong dan dikecilkan karena sudah rahasia umum kalau saya itu terlalu imut untuk bau-baju di pasaran, wkwkwk). Awalnya saya tidak ingin kesana, tapi karena sambilan ke luar ke pasar, ya sekalian saja saya mampir. Tada.. begitu saya tiba di sana, azan berkumandang riang di kejauhan. Jadilah saya terbengong sendiri di luar. Karena,  sudah jadi kebiasaan Cek Lu, jika waktu shalat tiba, pintu rumahnya pasti ditutup dan didepannya ditulis "maaf, sedang shalat."

Sambil menunggu di kursi luar, saya terkagum-kagum seorang diri. Ini lah Cek lu, sang idola dan penjahit kesayangan. Beliau adalah sosok wanita shalehah, lembut, sederhana, serta baik dan istiqamah luarbiasa. Beliau begitu keukeuh memegang prinsip "tidak mau menjahit celana, baju ketat, ataupun berlengan pendek." Rugikah beliau dengan prinsip itu? Tidak sama sekali. Karena prinsipnya itu, beliau malah terkenal sebagai "spesialis" gamis dan baju muslimah. Baginya menjahit adalah hobi. Apalagi baju anak-anak, "rasanya seperti refreshing." Begitulah ia mencintai pekerjaannya.

 Ia menjahit untuk menolong. kenapa aku berkata demikian? karena tarifnya itu murah sekali. Baju gamis biasa berkisar 60-70 ribu, kalau sudah berodel-model sedikit, alias sudah susah dijahit, baru harganya jadi 90-100 ribu. Bahkan terkadang harga itu bisa turun lebih jauh lagi jika ia mengetahui kalau yang meminta bantuannya itu adalah orang dari kalangan kurang mampu. Selain murah, hasilnya pun luarbiasa, rapi dan cantik.