Sebelum saya memulai berkisah lebih luar dalam, ingin sekali saya berkata seperti Butet manurung, “Penulis tak bertanggung jawab atas isi buku ini.” Kenapa? Karena biasanya, saya akan lancar menulis ketika saya sedang menggalau. Dan tau sendirilah bagaimana wajah bahasa, jika kita sedang mengalau, entah apalah yang bakalan yang mengalir deras dari pikiran. Sudah barang tentu, terkadang menyangkut orang lain. Karena memang hidup manusia, tak pernah berdiri sendiri.
Lagipula, blog ini memang saya niatkan akan saya ramaikan dengan cerita keseharian saya, terkhusus yang berhubung dengan TPM Tanyoe. Jujur, saya memang suka mencatat setiap hal yang saya alami setiap hari. Enggak tahu kenapa, rasanya seru saja. Apalagi kalau sedang menggalau, bisa menjadi sejenis jambang bagi air mata. Terapi stress yang paling efektif dan murah, begitulah kira-kira. Memang, mungkin bagi sebagian orang ini akan terkesan lebay dan “apa pentingnya?”. Karena pertimbangan Itulah, kenapa baru sekarang saya berani membuka pengalaman yang bersifat semi-pribadi ke publik. Padahal sudah dari dulu, tangan ini gatal ingin berbagi. Mana tahu ada yang bisa dipetik dari kisah saya, meski luarbiasa sederhana.
Namun, semua berawal dari sebuah buku. Buku Sokola Rimba, punyanya Butet Manurung, betul-betul membuka mata saya tentang pentingnya merekam semua kegiatan keseharian, meskipun itu begitu sederhana. Bagi Butet sendiri, catatan harian dia yang dijadikan buku itu, sungguh tak layak dibaca oleh khalayak ramai. Namun, bagi saya buku itu sungguh luarbiasa mengispirasi.



