Kehilangan Sesuatu?

Kamis, 14 Juni 2012

Film Ironi di Balik Gaptek Raih Juara Dua Nasional


Oleh: M. Hamzah Hasballah - 13/10/2011 - 13:18 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dokumenter edukasi karya sineas Aceh kembali berkibar di tingkat nasional. Film dengan judul Ironi di Balik “Gaptek” memenangkan juara dua dalam Festival Video Edukasi 2011 tingkat nasional yang digelar di Surabaya..

Imah; Kartini dari Lambirah

 by Liza Fathia on 21 April 2012
 
Kalau dilihat dari segi umur, ia masih tergolong belia. Dua puluh tahun lalu ia dilahirkan ke dunia. Tetapi jika ditilik dari apa yang telah diberikan untuk tanah kelahirannya, maka mereka di usia senjapun belum tentu bisa melakukan seperti gadis ini. Dialah Husnul Khatimah, sosok remaja putri nan cerdas dan penuh semangat. Ia ingin mencerdaskan anak-anak di kampungnya dengan membangun Taman Pendidikan Masyarakat (TPM).
Tanyoe, begitu nama TPMnya yang berarti kita. TPM yang dibangun atas dasar kekhawatirannya pada generasi muda yang saban hari hanya menghabiskan waktu luangnya untuk bermain Play Station (PS) di warung-warung. “Bayangkan saja, orang tua mereka adalah petani yang sehari-hari mendapat upah tidak sampai sepuluh ribu. Tapi mereka menghabiskan uang puluhan ribu untuk bermain PS.”

Itulah yang membuat Kak Imah, begitu ia kerap dipanggil oleh bocah-bocah di desanya, bertekad untuk membangun sebuah tempat yang dapat mengalihkan anak-anak tersebut dari permainan PS.

Perempuan Perkasa dari Lambirah


Oleh: Muhammad Hamzah - 31/07/2011 - 15:31 WIB

SEDIKIT GAGAP, Husnul memberi sebuah pengumuman mengejutkan kepada anak-anak Desa Lambirah, Aceh Besar, awal Juli silam. “Dek, niatnya kakak dan kawan-kawan mau membuat pustaka untuk kalian. Nanti di sana kalian bisa membaca buku apa saja, buku cerita juga ada di sana. Terus kalian juga akan diajari, apa saja yang kalian ingin pelajari,” ujar Husnul.
Ternyata, ucapan perempuan 20 tahun itu, begitu menggoda anak-anak yang tinggal di kaki Bukit Barisan tersebut.

Husnul (berbaju orange) di antara anak-anak Lambirah. | Dok Pribadi

Minggu, 10 Juni 2012

Si Kecil Itu Lahir Juga


Sebelumnya kami, selaku pengurus, mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyak nya kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam proses pendirian dan perampungan TPM Tanyoe di Desa Lambirah. Atas kebaikan teman-teman semualah, akhirnya TPM Tanyoe yang hanya bermodalkan mimpi, keperihatinan, serta kenekatan yang tak ketulungan, akhirnya terealisasikan menjadi suatu kenyataan yang luar biasa membahagiakan bagi kami pengurus  dan murid-murid TPM khususnya dan bagi pihak-pihak yang telah ikut membantu pada umumnya. Kami tak tahu  dan juga yakin, kalau kami tak akan mampu mebalas semua kebaikan hati teman-teman. Kami hanya bias berdoa semoga Allah membalas semua kebaikan hati teman-teman.

Mengharap Secuil Iba

Semua berawal dari mimpi, keprihatinan dan kenekatan. Bermimpi dapat menjadi orang yang berguna dan umur tak hilang percuma. Dibumbui rasa prihatin yang berkepanjangan akan keadaan adek-adek kami tercinta yang semakin hari, semakin tak terungkapkan. Ditambah lagi dengan dorongan kenekatan yang telah membulat, meski terdengar tak ketulungan dan kami tak punya pohon uang.

Namun, kami tetap mencoba melangkah menggapainya, meski tak bisa berlari, merangkak pun jadi. Dengan mengandalkan dana pribadi dan kebaikan hati para teman-teman yang baik budi, kami dari Lambiwood Comunity (kumpulan muda-muda belia, ceria dan ingin berguna) ingin membangun sebuah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) "Tanyoe" di desa Lambirah.

Jumat, 01 Juni 2012

Kenapa Lagunya Berubah? (lanjutan journey to Rigah)


Begitu tiba di atas. Tara! Ternyata tidak jelek-jelek amat, ada air tergenang membentuk sejenis kolam begitu, ada pohon-pohon tua laksana ayunan, dan juga tanah datar, pas di samping ayunan dan air mengalir itu. Jadi cocok sekali untuk digelar tikar dan makan bersama. Ngomong-ngomong masalah makan, bagitu tiba di sana. Sambil duduk menghela nafas, semua anak merengek lapar. Jam pun menunjukkan pukul 12.30, memang sudah saatnya makan.

Journey to Rigah (part-1)

Minggu, 24 juli 2011


Subuh ini, jantungku berdetak sedikit lebih kacau dari biasanya. Bagaimana tidak, sedari tadi, aku sibuk wara-wiri ke sana kemari, mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan nanti. “Journey to Rigah” aku mengulang-ulangnya dalam hati, demi menghilangkan kecemasan. Ah, sebenarnya aku sendiri juga ragu, apa aku sanggup mengawal anak-anak sebanyak itu ke tengah hutan? sedang aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana, sekali pun. Kalau mereka kenapa-napa, kan akulah orang pertama yang akan digorok oleh orang tua mereka.
 Ah, hutan itu kan telah menjadi tempat permainan mereka, jadi tenang saja lah, pasti mereka tidak akan kenapa-napa. Aku kembali menghibur diri, sambil tangan cekatan memasukkan botol air minum, bu kulah (nasi bungkus), dan juga tak lupa, mukena dan beberapa buku yang telah kubeli kemarin.

Rabu, 30 Mei 2012

Merayu "ketidakmungkinan"


Saat ide tentang pendirian TPM Tanyoe mengemuka, respon pertama adalah “tidak mungkin.” Bukan hanya dari pihak luar, para pengurus sendiri berpikir demikian. Bagimana tidak. Selain karena kelangakaan dana, tepatnya memang tidak ada. Ketakutan, kalau-kalau nanti setelah kita buka TPM Tanyoe, tapi malah anak-anaknya tidak mau datang bagaimana?

Malah, ada masyarakat yang tak sungkan-sungkan mengungkapkannya secara blak-blakkan. “enggak ada kerjaan bangun pustaka buat anak-anak desa. Mana mau mereka baca. Kayak tidak tau anak-anak desa aja.  Suruh cari siput di sawah, baru pas buat mereka.” Kira-kira begitulah.

Berawal dari Tiga Titik


“kau enak Mah, semua kau punya. Kau memang tipe orang yang mudah bergaul jadi mudah mengajak orang untuk kerjasama, kau punya dana yang cukup, keluarga yang mendukung, dan juga karena penduduk sekitar baik-baik orangnya, jadi mudah diajak bekerja sama. Makanya, kamu berhasil membangun TPM Tanyoe dengan mudah”


Kira-kira begitulah, yang terbersit dibenak teman-teman, melihat aku dan TPM Tanyoe hari ini. Ini bukan hanya kesombonganku semata, tapi karena aku memang pernah mendengar langsung kata-kata itu. Tapi apakah benar jalanku semulus itu? Jawabannya totally wrong.

Jujur, TPM adalah anugerah terindah dalam hidupku. Karena selain aku harus berjuang, TPM juga menjadi titik balik bagiku untuk menghargai diriku dan segala rahmat Allah di setiap sisi ke-aku-anku.

Percaya atau tidak, langkahku menuju lahirnya TPM Tanyoe, yang membentuk siapa aku hari ini, berawal dari “sesuatu” yang awalanya kusebut ia sebagai bencana Tuhan yang tak terkira. Sesuatu yang membuatku banting setir, dari sikap mengutuki diri, menyalahkan semua hal yang terjadi dalam kehidupanku yang tak pernah sesuai keinginanku, dan bahkan mengutuki Tuhan. Jujur, dulunya aku bukanlah seseorang yang begitu baik. Aku sibuk menerka-nerka, kenapa aku harus begini? Begitu? Dan masih banyak lagi. Layaknya remaja tanggung yang sibuk mencari jati diri. Sebut sajalah begitu, biar tidak terdengar begitu ekstrim.



Namun, ditengah kepribadianku yang agak bagaimana begitu, tiba-tiba di akhir bulan April 2010, aku divonis menderita penyakit yang yah cukup mencengangkan bagi seorang remaja. Tak usahlah kau tahu teman sakit apa itu, tak tega aku menyebutnya. Yang jelas, aku harus menjalankan serangkaian pengobatan yang tak murah, bahkan harus diterbangkan ke negeri jiran, penang Malaysia.

Jumat, 13 Januari 2012

welcome to my "crazy" world


Sebelum saya memulai berkisah lebih luar dalam, ingin sekali saya berkata seperti Butet manurung, “Penulis tak bertanggung jawab atas isi buku ini.” Kenapa? Karena biasanya, saya akan lancar menulis ketika saya sedang menggalau. Dan tau sendirilah bagaimana wajah bahasa, jika kita sedang mengalau, entah apalah yang bakalan yang mengalir deras dari pikiran. Sudah barang tentu, terkadang menyangkut orang lain. Karena memang hidup manusia, tak pernah berdiri sendiri.
Lagipula, blog ini memang saya niatkan akan saya ramaikan dengan cerita keseharian saya, terkhusus yang berhubung dengan TPM Tanyoe. Jujur, saya memang suka mencatat setiap hal yang saya alami setiap hari. Enggak tahu kenapa, rasanya seru saja. Apalagi kalau sedang menggalau, bisa menjadi sejenis jambang bagi air mata. Terapi stress yang paling efektif dan murah, begitulah kira-kira. Memang, mungkin bagi sebagian orang ini akan terkesan lebay dan “apa pentingnya?”. Karena pertimbangan Itulah, kenapa baru sekarang saya berani membuka pengalaman yang bersifat semi-pribadi ke publik. Padahal sudah dari dulu, tangan ini gatal ingin berbagi. Mana tahu ada yang bisa dipetik dari kisah saya, meski luarbiasa sederhana.
Namun, semua berawal dari sebuah buku. Buku Sokola Rimba, punyanya Butet Manurung, betul-betul membuka mata saya tentang pentingnya merekam semua kegiatan keseharian, meskipun itu begitu sederhana. Bagi Butet sendiri, catatan harian dia yang dijadikan buku itu, sungguh tak layak dibaca oleh khalayak ramai. Namun, bagi saya buku itu sungguh luarbiasa mengispirasi.