“kau enak Mah, semua kau punya. Kau memang tipe orang yang mudah bergaul jadi mudah mengajak orang untuk kerjasama, kau punya dana yang cukup, keluarga yang mendukung, dan juga karena penduduk sekitar baik-baik orangnya, jadi mudah diajak bekerja sama. Makanya, kamu berhasil membangun TPM Tanyoe dengan mudah”
Kira-kira begitulah, yang terbersit dibenak teman-teman, melihat aku dan TPM Tanyoe hari ini. Ini bukan hanya kesombonganku semata, tapi karena aku memang pernah mendengar langsung kata-kata itu. Tapi apakah benar jalanku semulus itu? Jawabannya totally wrong.
Jujur, TPM adalah anugerah terindah dalam hidupku. Karena selain aku harus berjuang, TPM juga menjadi titik balik bagiku untuk menghargai diriku dan segala rahmat Allah di setiap sisi ke-aku-anku.
Percaya atau tidak, langkahku menuju lahirnya TPM Tanyoe, yang membentuk siapa aku hari ini, berawal dari “sesuatu” yang awalanya kusebut ia sebagai bencana Tuhan yang tak terkira. Sesuatu yang membuatku banting setir, dari sikap mengutuki diri, menyalahkan semua hal yang terjadi dalam kehidupanku yang tak pernah sesuai keinginanku, dan bahkan mengutuki Tuhan. Jujur, dulunya aku bukanlah seseorang yang begitu baik. Aku sibuk menerka-nerka, kenapa aku harus begini? Begitu? Dan masih banyak lagi. Layaknya remaja tanggung yang sibuk mencari jati diri. Sebut sajalah begitu, biar tidak terdengar begitu ekstrim.
Namun, ditengah kepribadianku yang agak bagaimana begitu, tiba-tiba di akhir bulan April 2010, aku divonis menderita penyakit yang yah cukup mencengangkan bagi seorang remaja. Tak usahlah kau tahu teman sakit apa itu, tak tega aku menyebutnya. Yang jelas, aku harus menjalankan serangkaian pengobatan yang tak murah, bahkan harus diterbangkan ke negeri jiran, penang Malaysia.